Kamis, 18 Februari 2016

Cinta Mendewasakanku
danri kusmipah
            Besok 23 September 2014 genap 1 tahun aku berpacaran dengan Gio Kartarendra seorang senior di Sekolahku. Dan besok aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Aku berkenalan degannya sudah cukup lama, dia orang yang baik, ramah, dan menyenangkan. Saat itu kami sama dengan pasangan muda pada umumnya, dia memperlakukanku dengan sangat baik, dia menyayangiku dan kami bahagia bersama.
            Alasanku memutuskan hubungan kami bukan karena aku tak menyayanginya lagi dan bukan juga karena orang ketiga atau yang lainnya. Aku melakukan ini semata-mata hanya karena aku mencintainya, cinta yang begitu tulus hingga aku harus melepaskannya. Banyak orang yang menentang keputusanku ini tapi inilah yang terbaik untuk kami bahkan teman-tamanku sempat marah setelah mendengar keputusanku tapi perlahan mereka mengerti dengan semua dan mendukung keputusanku.
            “ Ibu, aku berangkat sekolah.” Teriakku sembari berlari keluar rumah temanku sudah menunggu di depan rumahku dan langsung masuk kemobil.
            “ pagi cantik!!! Pagi banget jemputnya?” candaku dan dibalasnya dengan senyum nakalnya. “eh ya dir kamu jadi mutusin Gio hari ini?” tanya tasya.
“ iya.” Jawabku singkat, aku benar-benar harus fokus memikirkan apa yang harus aku katakan dengan Gio saat bertemu nanti agar dia tidak merasa tersakiti. Selama diperjalanan aku diam hingga akhirnya kami tiba di sekolahku. Aku pun menjad semakin gugup saat menginjakan kaki di sekolah aku berdiri menatap nanar kedepan hingga akhirnya Tasya menarik lenganku.
            “ hey!! Ngapain sih?”
            “ ha? Kenapa?”
            “ kamu yang kenapa? Bengong aja dari tadi, mikirin apaan sih? Masih mikir cara buat ngomong sama Gio?”
            “ ehm iya, aku bingung harus bilang apa sam Gio. Aku tahu dia sayang sama aku tapi aku harus lepasin dia.” Aku berjalan perlahan dan tasya mengikti desebelahku. “ denger ya Dir, kalo menurut aku mending kamu kasih tau aja yang sejujurnya sama Gio tentang apa yang kamu alami selama ini mungkin dia bisa ngerti setelah tahu dan siapa tahu dia bisa nerima kenyataannya.”
            “ tapi aku nggak bisa Tasya, aku nggak mungkin cuma mikirin parasaan aku aku juga harus mikirin dia. Aku ggak boleh egois.” Jawabku
            “ dan menurut kamu dengan kamu mutusin dia kamu nggak egois gitu? Itu bahkan lebih egois lagi Dir. Coba kamu pikir kamu mutusin dia tanpa dia tahu alasannya dan seandainya suatu saat dia tahu yang sebenarnya dia pasti bakal kecewa banget sama kamu.” Lanjut Tasya. Apa yang Tasya bilang memang benar tapi aku akan berusaha untuk menutupi semuanya hinnga akhirnya dia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
            Kami berjalan perlahan menuju kelas dan tiba-tiba di depan pintu kelask aku melihat Gio sudah menungguku disana. aku langsung berlari kearah lain, aku belum siap untuk bertemu Gio sekarang. “ Dira, kamu mau kemana?” Tasya mengejarku.
            “Tasya kamu duluan aja kekelas terus kalau misalnya Gio nanyain aku kekamu bilang aja kamu belum ketemu aku. Yah please aku belum siap buat ketemu Gio sekarang.”
            "aduh dira kamu itu gimana sih, tadi kamu bilang kamu mau ngomong sama Gio dan mutusin dia. Tapi sekarag kamu nggak berani ketemu dia. Gimana sih.” Ucap Tasya sedikit kesal dengan tingkahku.
            “ iya tapi bukan sekarang, aku harus mikir dulu apa yang mesti aku bilang sama Gio aku nggak mungkin asal ngomong kan sama dia. Jadi sekarang kamu buruan kekelas dan bilang seperti yang aku kasih tau tadi oke.” Jawabku dan langsung mendorong Tasya
            Setelah Tasya pergi aku pun pergi ke kantin berharap aku bisa menemukan cara untuk berbicara dengan Gio. Aku berjalan setengah menunduk aku benar-benar tidak menemukan cara apapun untuk bicara dengan Gio dan tanpa aku sadari ternyata Gio sudah berdiri di depanku dan memperhatikanku dari tadi. Aku terkejut dan berniat untuk lari tapi dengan cepat dia menarik tanganku dan membawaku ke taman belakang kelas. Aku diam tidak bisa berkata apa-apa dan langsung duduk dibangku taman. Gio selalu menatapku dengan pandangan penuh tanya, yah mungkin dia bingung dengan apa yang terjadi padaku saat ini tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Gio memegang tanganku dan langsung aku tepis tanganya.
            “Dira kamu kenapa?” kenapa kamu menghindari aku? kenpa kamu lari setiap ketemu aku? apa ada yang salah sama aku? kalau emang aku salah aku minta maaf ya dir aku benar-benar nggak tau salah aku apa. Sekarang coba kamu bilang salah aku apa, aku pasti berusaha buat berubah kok Dir tapi kamu jngan marah lagi ya.” Gio menjejalku dengan berbaga pertanyaan dan permintaan maafnya dan ini semakin membuatku merasa bersalah dan akhirnya hanya kalimat ini yang keluar dari mulutku “ aku mau kita putus.” Ucapku.
            Dan seketika itu Gio langsung terdiam, dia melepaskan genggamannya dari tanganku. Sedangkan aku menunduk kaku dan tidak berani menatap matanya meski sedetikpun. Aku merasa bersalah dengannya tapi ini harus aku lakukan demi kebaikannya. “Dir kamu kenapa sih? Kalau aku salah kamu tinggal kasih tahu aku apa salah aku. Aku pasti berubah kok Dir aku mohon sama kamu kita jangan putus.” Gio duduk berlutut dan memohon padaku, semua ini membuatku tidak sanggub untuk menahan air mataku. Aku menangis dan kupegang tangan Gio aku tidak tahu harus berbuat apa tapi keputusanku sudah bulat.
            “ Gio maaf, tapi kita harus putus. Kita nggak bisa lagi lanjutin hubungan kita. Kalaupun kita paksain buat terus pacaran tetap aja nggak bisa Gio!! Kita udah nggak cocok.” Teriakku.
            “ Dir kita pasti bisa kok aku yakin kita pasti bisa diraa. Aku mohon sama kamu jangan putusin aku, aku nggak akan bisa hidup tanpa kamu. Aku sayang sama kamu aku cinta sama kamu. Aku rela lakuin apa aja buat kamu, aku bakal nurutin semua apa yang kamu mau tapi kamu jangan putusin aku dir. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu.” Gio menangis dipangkuanku tapi semua ucapannya tidak bisa mengubah keputusanku saat ini.
            “nggak Gio, aku nggak bisa lagi lanjutin hubungan kita. Aku udah nggak sayang sama kamu, aku nggak cinta lagi sama kamu dan sekarang aku udah punya yang jauh lebih baik dari kamu. Sekarang kamu puas kan, aku mohon Gio aku mau putus.” Ucapku langsung berdiri  dan berjalan meninggalkan Gio yang masih menangis. Aku berlari kekelasku, aku tidak ingin membuat Gio lebih kecewa lagi. Ini sudah cukup membuatku sakit. Tasya mengahampiriku dan memelukku aku nggak punya tempat lagi untuk mengadu Cuma dia satu-satunya yang aku punya di sekolah ini setelah Gio.
            “Dir kamu sabar ya. Aku tahu kamu sayang banget sama Gio aku juga tahu kamu nggak punya pilihan lain selain mutusin Gio. Aku bakal selalu ada buat kamu kok, sabar yah jangan sedih.” Ucap tasya berusaha menghiburku.
            “ Tasya aku sayang sama Gio, aku cinta sma Gio. Kamu tahu itu kan, nggak akan ada yang bisa gantiin posisi Gio dihati aku.” isakku.
            “iya aku tahu tapi kamu yang sabar yah, semua pasti berjalan baik-baik aja kok. Aku yakin.” Tasya tak henti-hentinya menyemangatiku. Hinggan akhir jam sekolah aku tidak pernah bisa fokus dengan pelajaranku.
            “Dir pulang sekolah kamu mau kemana? Kita jalan yuk.” Tasya masih berusaha untuk membuatku senyum kembali tapi sekarang aku benar-benar tidak ada semangat untuk pergi aku mau langsung pulang.
            “ nggak Sya, aku mau langsung pulang aja.” Jawabku
            “ oke aku antar pulang yah.” Tasya langsung membawaku masuk kemobilnya. Sesampainya di rumah aku langsung menuju kekamarku dan menghempaskan tubuhku ketempat tidur. Bayangan kejadian hari ini masih sangat jelas diingatanku, aku menutup mataku dengan bantal mengangis dalam diam. Ke[putusan ini memang sulit untukku dan juga untuk Gio tapi memang ini yang harus aku lakukan jika aku mencintainya.
***
            Sebulan sudah semenjak pertemuanku dengan Gio ditaman dan sekarang aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Aku kembali beraktifitas seperti biasanya, aku kemabli kesekolah dan belajar seperti biasanya. Dan hari ini aku mendengar kabar bahwa Gio sudah menjalin hubungan baru dengan seorang siswi dikelasnya. Awalnya aku sedih tapi ini lah yang terbaik, aku harus menerima ini demi kebaikannya dan kebahagiaannya.
            “hey ngelamun aja. Mikirin apa sih? Ntar kesambet loh. Kita kekantin yuk lapeer.” Tasya mengagetkanku.
            “ eh? Kekantin? Ayuk aku juga udah laper banget.” Jawabku langsung menggandeng tangan Tasyaa berjalan kekantin. Setibanya dikantin aku melihat Gio duduk berdua dengan pacar barunya. Aku tidak menghiraukan mereka dan langsung mencari tempat duduk di ujung kantin dengan niatan agar mereka tidak melihatku tapi ternyata pacarya sudah melihatku dan mengahampiri meja kami.
            “ eh kamu emang sengaja yah datang kesini biar Gio lihat kamu dan mengamipiri kamu gitu kan?” cecarnya kepadaku. Aku hanya diam, aku tidak menjawab apapun aku tidak berniat untuk membuat masalah sekarang. Tapi Tasya sudah terpancing emosi dan PLAK tsya mendaratkan tamparan kepipi perempuab itu.
            “ Tasya kamu apa-apaan sih?” Gio menarik tangan tasya dan tasya langsung mearik tangannya dari Gio.
            “ Gio asal kamu tahu yah, perempuan ini yang udah bikin kamu putus sama Dira. Dia yang udah buat hubungan kamu sam Dira jadi hancur kayak sekarang dan sekarang kamu malah pacaran sama dia. Kamu benar-benar kelewatan Gio.” Ucap Tasya.
            “tasya cukup, sekarang kita pergi.” Aku menarik tangan tasya aku nggak mau Tasya bicara lebih banyak lagi masalahku dengan karin. Aku lah yang memutuskan untuk mengakhiri hubungaku dengan Gio.
            “ tunggu Dir, sekarang kamu jelasin apa maksud dari kata-kata Tasya barusan. Kamu jelasin sama aku kenapa karin bisa jadi penyebab hubungan kita putus?” tanya Gio.
            “ nggak ada yang perlu dijelasin Gio, Karin nggak ada kaitannya dengan hubungan kita.” Jawabku dan langsung berlari keluar kantin tapi Gio mengejarku dia tidak lagi menghiraukan Karin yang memanggil namanya. Gio menarikku dan berteriak kepadaku “ Dira! Jelasin ke aku kenapa Kari bisa jadi penyebab hubungang kita puus? Jawab Dir jangan diam aja.”
            “Gio semuanya udah berakhir dan percuma kamu tau semuanya sekarang. Kamu Cuma harus bahagia sama Kari itu aja dan jangan pernah ganggu aku lagi.”
            “nggak Dir aku nggak akan diam sekrang. Aku mau tahu semuanya aku nggak mau lagi kamu nutupi semuanya dari akau, aku harus tahu semuanya Dir ini juga menyangkut aku.”
            “oke aku baka kasih tahu kamu semuanya tapi kamu harus janji kamu nggak akan mutusin Kari dan tetap bersikap seperti kamu nggak tahu apa-apa.”
            “nggak bisa Dir, kalau aku tahu semuanya mungkin aku nggak akan bisa besikap biasa aja kesiapapun yang udah ngehancurin hubungan aku sama kamu.”
            “yaudah kalau emang kamu nggak mau aku juga nggak akan ngasih tahu kamu semua yang ingin kamu ketahui.” Jawabaku.
            “iya aku janji tapi kamu harus kasih tahu aku semuanya.”
            Aku menceritakan semuanya, semua yang harus diketahui Gio dari awal. Aku mencerikan kronolgi pertemuanku dengan karin hingga keputusanku untuk mengakhiri hubunganku dengan Gio. Gio medengarkanku tanpa menyela sedikitpun hingga aku selesai berbicara dia tetap diam. “ sekarang kamu udah tahu semuanya dan sekrang kamu harus tepatin janji kamu.”
            “iy aku pasti tepatin janji aku. maaf aku nggak bsa ngertiin kamu dan maaf aku nggak bukan yang terbaik untuk kamu. Aku sayang kamu Dir.” Ucapnya.
            Aku pergi meninggalkannya, sekarang aku merasa beban dibahuku terbang malayang jauh. Aku merasa lega dan rasa bersalah yang selama ini menghantuiku telah pergi jauh. Aku selalu berkata pada diriku sendiri bahwa tuhan selalu mengirimkan orang terbaik disaat yang tepat kita hanya harus menyiapkan diri kita untuk menyambutnya ketika dia datang menjemput kita hingga akhirnya kita menjadi pasangan yang sempurna dan saling melengkapi.
          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar