Cinta
Mendewasakanku
danri kusmipah
Besok 23 September 2014 genap 1
tahun aku berpacaran dengan Gio Kartarendra seorang senior di Sekolahku. Dan
besok aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Aku berkenalan
degannya sudah cukup lama, dia orang yang baik, ramah, dan menyenangkan. Saat
itu kami sama dengan pasangan muda pada umumnya, dia memperlakukanku dengan
sangat baik, dia menyayangiku dan kami bahagia bersama.
Alasanku memutuskan hubungan kami
bukan karena aku tak menyayanginya lagi dan bukan juga karena orang ketiga atau
yang lainnya. Aku melakukan ini semata-mata hanya karena aku mencintainya,
cinta yang begitu tulus hingga aku harus melepaskannya. Banyak orang yang
menentang keputusanku ini tapi inilah yang terbaik untuk kami bahkan
teman-tamanku sempat marah setelah mendengar keputusanku tapi perlahan mereka
mengerti dengan semua dan mendukung keputusanku.
“ Ibu, aku berangkat sekolah.”
Teriakku sembari berlari keluar rumah temanku sudah menunggu di depan rumahku
dan langsung masuk kemobil.
“ pagi cantik!!! Pagi banget
jemputnya?” candaku dan dibalasnya dengan senyum nakalnya. “eh ya dir kamu jadi
mutusin Gio hari ini?” tanya tasya.
“
iya.” Jawabku singkat, aku benar-benar harus fokus memikirkan apa yang harus
aku katakan dengan Gio saat bertemu nanti agar dia tidak merasa tersakiti.
Selama diperjalanan aku diam hingga akhirnya kami tiba di sekolahku. Aku pun
menjad semakin gugup saat menginjakan kaki di sekolah aku berdiri menatap nanar
kedepan hingga akhirnya Tasya menarik lenganku.
“ hey!! Ngapain sih?”
“ ha? Kenapa?”
“ kamu yang kenapa? Bengong aja dari
tadi, mikirin apaan sih? Masih mikir cara buat ngomong sama Gio?”
“ ehm iya, aku bingung harus bilang
apa sam Gio. Aku tahu dia sayang sama aku tapi aku harus lepasin dia.” Aku
berjalan perlahan dan tasya mengikti desebelahku. “ denger ya Dir, kalo menurut
aku mending kamu kasih tau aja yang sejujurnya sama Gio tentang apa yang kamu
alami selama ini mungkin dia bisa ngerti setelah tahu dan siapa tahu dia bisa
nerima kenyataannya.”
“ tapi aku nggak bisa Tasya, aku
nggak mungkin cuma mikirin parasaan aku aku juga harus mikirin dia. Aku ggak
boleh egois.” Jawabku
“ dan menurut kamu dengan kamu
mutusin dia kamu nggak egois gitu? Itu bahkan lebih egois lagi Dir. Coba kamu
pikir kamu mutusin dia tanpa dia tahu alasannya dan seandainya suatu saat dia
tahu yang sebenarnya dia pasti bakal kecewa banget sama kamu.” Lanjut Tasya.
Apa yang Tasya bilang memang benar tapi aku akan berusaha untuk menutupi
semuanya hinnga akhirnya dia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Kami berjalan perlahan menuju kelas
dan tiba-tiba di depan pintu kelask aku melihat Gio sudah menungguku disana.
aku langsung berlari kearah lain, aku belum siap untuk bertemu Gio sekarang. “
Dira, kamu mau kemana?” Tasya mengejarku.
“Tasya kamu duluan aja kekelas terus
kalau misalnya Gio nanyain aku kekamu bilang aja kamu belum ketemu aku. Yah please aku belum siap buat ketemu Gio
sekarang.”
"aduh dira kamu itu gimana sih,
tadi kamu bilang kamu mau ngomong sama Gio dan mutusin dia. Tapi sekarag kamu
nggak berani ketemu dia. Gimana sih.” Ucap Tasya sedikit kesal dengan
tingkahku.
“ iya tapi bukan sekarang, aku harus
mikir dulu apa yang mesti aku bilang sama Gio aku nggak mungkin asal ngomong
kan sama dia. Jadi sekarang kamu buruan kekelas dan bilang seperti yang aku
kasih tau tadi oke.” Jawabku dan langsung mendorong Tasya
Setelah Tasya pergi aku pun pergi ke
kantin berharap aku bisa menemukan cara untuk berbicara dengan Gio. Aku
berjalan setengah menunduk aku benar-benar tidak menemukan cara apapun untuk
bicara dengan Gio dan tanpa aku sadari ternyata Gio sudah berdiri di depanku
dan memperhatikanku dari tadi. Aku terkejut dan berniat untuk lari tapi dengan
cepat dia menarik tanganku dan membawaku ke taman belakang kelas. Aku diam tidak
bisa berkata apa-apa dan langsung duduk dibangku taman. Gio selalu menatapku
dengan pandangan penuh tanya, yah mungkin dia bingung dengan apa yang terjadi
padaku saat ini tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Gio memegang tanganku dan
langsung aku tepis tanganya.
“Dira kamu kenapa?” kenapa kamu
menghindari aku? kenpa kamu lari setiap ketemu aku? apa ada yang salah sama
aku? kalau emang aku salah aku minta maaf ya dir aku benar-benar nggak tau
salah aku apa. Sekarang coba kamu bilang salah aku apa, aku pasti berusaha buat
berubah kok Dir tapi kamu jngan marah lagi ya.” Gio menjejalku dengan berbaga
pertanyaan dan permintaan maafnya dan ini semakin membuatku merasa bersalah dan
akhirnya hanya kalimat ini yang keluar dari mulutku “ aku mau kita putus.” Ucapku.
Dan seketika itu Gio langsung
terdiam, dia melepaskan genggamannya dari tanganku. Sedangkan aku menunduk kaku
dan tidak berani menatap matanya meski sedetikpun. Aku merasa bersalah
dengannya tapi ini harus aku lakukan demi kebaikannya. “Dir kamu kenapa sih?
Kalau aku salah kamu tinggal kasih tahu aku apa salah aku. Aku pasti berubah
kok Dir aku mohon sama kamu kita jangan putus.” Gio duduk berlutut dan memohon
padaku, semua ini membuatku tidak sanggub untuk menahan air mataku. Aku
menangis dan kupegang tangan Gio aku tidak tahu harus berbuat apa tapi
keputusanku sudah bulat.
“ Gio maaf, tapi kita harus putus.
Kita nggak bisa lagi lanjutin hubungan kita. Kalaupun kita paksain buat terus
pacaran tetap aja nggak bisa Gio!! Kita udah nggak cocok.” Teriakku.
“ Dir kita pasti bisa kok aku yakin
kita pasti bisa diraa. Aku mohon sama kamu jangan putusin aku, aku nggak akan
bisa hidup tanpa kamu. Aku sayang sama kamu aku cinta sama kamu. Aku rela
lakuin apa aja buat kamu, aku bakal nurutin semua apa yang kamu mau tapi kamu
jangan putusin aku dir. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu.” Gio menangis
dipangkuanku tapi semua ucapannya tidak bisa mengubah keputusanku saat ini.
“nggak Gio, aku nggak bisa lagi
lanjutin hubungan kita. Aku udah nggak sayang sama kamu, aku nggak cinta lagi
sama kamu dan sekarang aku udah punya yang jauh lebih baik dari kamu. Sekarang
kamu puas kan, aku mohon Gio aku mau putus.” Ucapku langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Gio yang masih
menangis. Aku berlari kekelasku, aku tidak ingin membuat Gio lebih kecewa lagi.
Ini sudah cukup membuatku sakit. Tasya mengahampiriku dan memelukku aku nggak
punya tempat lagi untuk mengadu Cuma dia satu-satunya yang aku punya di sekolah
ini setelah Gio.
“Dir kamu sabar ya. Aku tahu kamu
sayang banget sama Gio aku juga tahu kamu nggak punya pilihan lain selain
mutusin Gio. Aku bakal selalu ada buat kamu kok, sabar yah jangan sedih.” Ucap
tasya berusaha menghiburku.
“ Tasya aku sayang sama Gio, aku
cinta sma Gio. Kamu tahu itu kan, nggak akan ada yang bisa gantiin posisi Gio
dihati aku.” isakku.
“iya aku tahu tapi kamu yang sabar
yah, semua pasti berjalan baik-baik aja kok. Aku yakin.” Tasya tak
henti-hentinya menyemangatiku. Hinggan akhir jam sekolah aku tidak pernah bisa
fokus dengan pelajaranku.
“Dir pulang sekolah kamu mau kemana?
Kita jalan yuk.” Tasya masih berusaha untuk membuatku senyum kembali tapi
sekarang aku benar-benar tidak ada semangat untuk pergi aku mau langsung
pulang.
“ nggak Sya, aku mau langsung pulang
aja.” Jawabku
“ oke aku antar pulang yah.” Tasya
langsung membawaku masuk kemobilnya. Sesampainya di rumah aku langsung menuju
kekamarku dan menghempaskan tubuhku ketempat tidur. Bayangan kejadian hari ini
masih sangat jelas diingatanku, aku menutup mataku dengan bantal mengangis
dalam diam. Ke[putusan ini memang sulit untukku dan juga untuk Gio tapi memang
ini yang harus aku lakukan jika aku mencintainya.
***
Sebulan sudah semenjak pertemuanku
dengan Gio ditaman dan sekarang aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Aku
kembali beraktifitas seperti biasanya, aku kemabli kesekolah dan belajar
seperti biasanya. Dan hari ini aku mendengar kabar bahwa Gio sudah menjalin
hubungan baru dengan seorang siswi dikelasnya. Awalnya aku sedih tapi ini lah
yang terbaik, aku harus menerima ini demi kebaikannya dan kebahagiaannya.
“hey ngelamun aja. Mikirin apa sih?
Ntar kesambet loh. Kita kekantin yuk lapeer.” Tasya mengagetkanku.
“ eh? Kekantin? Ayuk aku juga udah
laper banget.” Jawabku langsung menggandeng tangan Tasyaa berjalan kekantin.
Setibanya dikantin aku melihat Gio duduk berdua dengan pacar barunya. Aku tidak
menghiraukan mereka dan langsung mencari tempat duduk di ujung kantin dengan
niatan agar mereka tidak melihatku tapi ternyata pacarya sudah melihatku dan
mengahampiri meja kami.
“ eh kamu emang sengaja yah datang
kesini biar Gio lihat kamu dan mengamipiri kamu gitu kan?” cecarnya kepadaku.
Aku hanya diam, aku tidak menjawab apapun aku tidak berniat untuk membuat
masalah sekarang. Tapi Tasya sudah terpancing emosi dan PLAK tsya mendaratkan
tamparan kepipi perempuab itu.
“ Tasya kamu apa-apaan sih?” Gio
menarik tangan tasya dan tasya langsung mearik tangannya dari Gio.
“ Gio asal kamu tahu yah, perempuan
ini yang udah bikin kamu putus sama Dira. Dia yang udah buat hubungan kamu sam
Dira jadi hancur kayak sekarang dan sekarang kamu malah pacaran sama dia. Kamu
benar-benar kelewatan Gio.” Ucap Tasya.
“tasya cukup, sekarang kita pergi.”
Aku menarik tangan tasya aku nggak mau Tasya bicara lebih banyak lagi masalahku
dengan karin. Aku lah yang memutuskan untuk mengakhiri hubungaku dengan Gio.
“ tunggu Dir, sekarang kamu jelasin
apa maksud dari kata-kata Tasya barusan. Kamu jelasin sama aku kenapa karin
bisa jadi penyebab hubungan kita putus?” tanya Gio.
“ nggak ada yang perlu dijelasin
Gio, Karin nggak ada kaitannya dengan hubungan kita.” Jawabku dan langsung
berlari keluar kantin tapi Gio mengejarku dia tidak lagi menghiraukan Karin
yang memanggil namanya. Gio menarikku dan berteriak kepadaku “ Dira! Jelasin ke
aku kenapa Kari bisa jadi penyebab hubungang kita puus? Jawab Dir jangan diam
aja.”
“Gio semuanya udah berakhir dan
percuma kamu tau semuanya sekarang. Kamu Cuma harus bahagia sama Kari itu aja
dan jangan pernah ganggu aku lagi.”
“nggak Dir aku nggak akan diam
sekrang. Aku mau tahu semuanya aku nggak mau lagi kamu nutupi semuanya dari
akau, aku harus tahu semuanya Dir ini juga menyangkut aku.”
“oke aku baka kasih tahu kamu
semuanya tapi kamu harus janji kamu nggak akan mutusin Kari dan tetap bersikap
seperti kamu nggak tahu apa-apa.”
“nggak bisa Dir, kalau aku tahu
semuanya mungkin aku nggak akan bisa besikap biasa aja kesiapapun yang udah
ngehancurin hubungan aku sama kamu.”
“yaudah kalau emang kamu nggak mau
aku juga nggak akan ngasih tahu kamu semua yang ingin kamu ketahui.” Jawabaku.
“iya aku janji tapi kamu harus kasih
tahu aku semuanya.”
Aku menceritakan semuanya, semua
yang harus diketahui Gio dari awal. Aku mencerikan kronolgi pertemuanku dengan
karin hingga keputusanku untuk mengakhiri hubunganku dengan Gio. Gio medengarkanku
tanpa menyela sedikitpun hingga aku selesai berbicara dia tetap diam. “
sekarang kamu udah tahu semuanya dan sekrang kamu harus tepatin janji kamu.”
“iy aku pasti tepatin janji aku.
maaf aku nggak bsa ngertiin kamu dan maaf aku nggak bukan yang terbaik untuk
kamu. Aku sayang kamu Dir.” Ucapnya.
Aku pergi meninggalkannya, sekarang
aku merasa beban dibahuku terbang malayang jauh. Aku merasa lega dan rasa
bersalah yang selama ini menghantuiku telah pergi jauh. Aku selalu berkata pada
diriku sendiri bahwa tuhan selalu mengirimkan orang terbaik disaat yang
tepat kita hanya harus menyiapkan diri kita untuk menyambutnya ketika dia
datang menjemput kita hingga akhirnya kita menjadi pasangan yang sempurna dan
saling melengkapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar